leave nothing but footprint

Desember 15th, 2009

Pergi ke Timur

Posted by beruangqutub in Perjalanan  Tagged

Pergi ke Timur - SURABAYA

Tubuhnnya yang seukuran dua kali badan saya tampak kukuh menenteng sebuah carrier 80 liter terisi penuh. Menapaki tangga demi tangga, beradu dengan para TKBM ( Tenaga Kuli Bongkar Muat ) dan penumpang lainnya. Saya bersyukur karena dengan itu saya tinggal mengikutinya dari belakang sambil cukup menenteng day pack dan tas pinggang yang juga tidak kalah sarat oleh berbagai macam barang yang ada di dalamnya.

Seharusnya kami berdua tidak perlu bersusah payah begini andai semua penumpang ( baik penumpang yang turun maupun calon penumpang yang akan naik kapal ) dan para TKBM mematuhi aturan PELNI, penumpang turun lewat tangga lantai empat, dan penumpang naik lewat tangga lantai dua. Tapi ini Indonesia bung, penumpang yang ada di lantai dua atau tiga tentunya malas buat naik ke lantai empat, sehingga lebih memilih turun lewat lantai dua, bertabrakan dengan para calon penumpang yang akan naik.

Begitu juga dengan para kuli TKBM, yang lebih memilih naik lewat tangga lantai empat, berusaha mendahului para rekan mereka yang naik dari lantai dua, demi menjemput rejeki, memberi jasa angkut bagi penumpang yang turun dari kapal. Maghrib sudah menjelang, saat saya dan Hid, kakak sepupu saya yang berbadan besar tadi, mendatangi bagian informasi di dalam kapal itu untuk menunjukkan tiket dan mengambil kunci kamar. Saya diharuskan menitipkan uang sebesar Rp.10.000,- sebagai ganti kunci kamar yang saya terima. Kemudian, masih dengan langkah tergesa, Hid menyeret saya untuk mengikutinya mencari kamar yang dimaksud. Pengalamannya merantau di Kalimantan selama 6 tahun dan menaiki berbagai kapal besar telah membuatnya begitu menguasai setiap lorong yang ada dalam sebuah kapal PELNI.

Ah iya, saat ini saya sedang berada di dalam perut sebuah kapal PELNI, sodara - sodara !! Terinspirasi oleh Gola Gong dengan cerita Balada si Roy nya, dan Asterix dengan Perjalanan Keliling Galia nya, saya pun dengan nekat mencoba menulis catatan perjalanan saya dengan bertualang ke Indonesia Timur. Setelah mengantar saya sampai kamar, Hid pun berpamitan pulang, memeluk saya erat sambil menangis, seolah saya tidak akan kembali untuk waktu yang lama.

Setelah melepasnya, saya kembali ke kamar yang berisi empat tempat tidur tingkat ( delapan kasur )dan dua lemari berukuran kecil itu. Kamar kelas IIb KM Lambelu ini berisi delapan penumpang. Kapal buatan Jerman tahun 1996 ini mempunyai data kapasitas penumpang sebagai berikut :

Kelas IA sejumlah 64 penumpang ( satu kamar isinya 2 orang )

Kelas IB sejumlah 80 penumpang ( satu kamar berisi 4 orang )

Kelas IIA sejumlah 144 penumpang ( satu kamar 6 orang )

Kelas IIB sejumlah 96 penumpang ( satu kamar 8 orang )

Kelas III ( Wisata ) berbentuk barak los tanpa kamar, isinya 355 orang, terletak di lantai 4 Ekonomi berbentuk los juga dengan kapasitas 1264 tempat tidur, terletak di lantai 3 dan lantai 2 Oh iya, sekedar info, makin rendah lantainya, maka akan semakin terasa goyangan ombak lautnya.

Dan sekedar info juga, untuk mendapatkan tiket kelas IIB teratas, susahnya minta ampun. Beberapa sumber yang semoga tidak bisa dipercaya mengatakan, oknum petugas PELNI kadang bekerjasama dengan para calo dengan menjual tiket kelas langsung kepada para calo dengan harga sedikit diatas harga resmi. Sehingga, sangat sering kita jumpai penumpang yang mencari tiket kelas II ke atas di loket resmi selalu kehabisan. Namanya juga Indonesia.

Dan tebak, berapa kapasitas penumpang ekonomi yang diangkut oleh kapal ini. Saya tidak tahu pasti, tetapi mungkin lebih dari dua ribu penumpang !!! Padahal seperti yang saya tulis tadi, kapasitas penumpang ekonomi adalah 1264 orang. Para penumpang yang tidak mendapatkan tempat tidur, memenuhi geladak, bagian buritan, lorong2 jalan, hingga sampai sisi luar kapal. Tentu saja mereka tidak kebagian pelampung dan sulit tertampung dalam delapan sekoci yang dipersiapkan oleh kapal jika terjadi force mayeur. Namanya juga Indonesia.

Setelah sholat maghrib dan Isya di kamar saya yang sempit ( waktu itu saya belum tahu kalo di kapal ini dilengkapi musholla besar di bagian buritan), saya diajak oleh dua bapak2 purnawirawan ABRI yang kebetulan sekamar dengan saya, untuk makan malam. Makan malam memang disediakan oleh kapal.

Tentu dibedakan antara makan kelas ekonomi dan wisata, dengan makan kelas I dan II. Ruangan makan kelas I dan II dilengkapi dengan beberapa set meja kursi rapi, dan sebuah panggung musik yang sesekali diisi oleh sebuah band yang membawakan lagu2 standar buat orang makan. Menu yang disajikan buat makan malam biasanya nasi dengan sayur dan berbagai lauk dari ikan laut.

Selesai makan, dua bapak “tua - tua keladi” ini iseng mengajak saya menonton film di theatre yang ada di lantai 2. Wah boleh juga nih, belum pernah seumur2 nonton film di kapal. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa sebuah kapal ternyata juga dilengkapi dengan berbagai sarana hiburan. Akhirnya saya dengan dua bapak tadi pun melewatkan dua jam malam pertama, nonton film di sebuah kapal yang sedang mengarungi sebuah lautan lepas.

Selesai dengan hiburan ” bioskop goyang”nya, saya dan dua bapak tadi naik ke lantai empat menuju kamar dan bergabung dengan 5 orang lainnya di kamar itu. Setelah sedikit berakrab2an dengan mereka, saya pun membuka buku harian saya, untuk membuat catatan point penting hari ini. Badan saya penat teman - teman, setelah semalam kemarin saya menempuh perjalanan Magelang - Surabaya, dan siang tadi capek packing plus mendapat pengalaman baru di kapal. Saatnya tidur. Besok malam, saya akan segera sampai di daratan Sulawesi.

alone

Pergi ke Timur - MAKASSAR

Sebuah pemberitahuan waktu shubuh membangunkan saya dari tidur. Saya beranjak menuju ke arah buritan kapal. Musholla terletak di lantai 5 bagian belakang kapal. Sebenarnya musholla itu cukup luas, bisa menampung sekitar seratusan orang. Tapi jika dibanding kapasitas kapal yang berpenumpang dua ribu orang lebih tentu muhsolla ini bisa dikategorikan kurang luas.

Oh iya, semalam kata beberapa orang, kapal ini baru saja melewati lokasi tenggelamnya KM. Tampomas yang ceritanya melegenda itu. Konon setiap kapal yang melewati daerah itu akan membunyikan stoom nya sebagai penghormatan atas musibah tersebut.

Keluar dari musholla, saya yang sedari keluar kamar sudah bersiap2 dengan kamera tentu tidak akan melewatkan sunrise pertama yang bisa saya nikmati dari sebuah kapal di tengah lautan luas tanpa terlihat satupun daratan. Sambil menunggu matahari, iseng saya naik ke lantai enam, ke sebuah cafetaria yang letaknya tepat di atas tempat wudhu musholla. Dan olala, harga - harga disini dua bahkan tiga kali lipat dari harga di daratan. Untung saya tadi sekedar memesan satu mie instan yang dikemas dalam gelas sterofoam dan segelas kopi.

Sore menjelang, setelah seharian di kapal, saya mulai bisa menemukan ritme kehidupan disini. Jadi saya mulai membuat jadwal dalam angan kapan harus makan ( hanya jam2 tertentu tempat makannya dibuka), kapan harus mandi (untuk menghindari antrian), kapan harus sholat ( di kapal hanya ada 3 waktu sholat, isya dijama’ di maghrib, dan ashar dijama’ di dhuhur ) dan kapan harus berkeliling kapal.

PORT OF MAKASSAR. Itu tulisan yang pertama kali saya baca sebelum kapal mendekati daratan. Setelah berulang kali pengumuman satu jam, setengah jam, hingga lima belas menit menjelang merapatnya kapal diberitahukan oleh ABK ( awak buah kapal ) lewat pengeras, merapatlah kapal ini di pelabuhan makassar. Jam 11 malam waktu itu. Agak terlambat dari jadwal yangs seharusnya.

Saya dengan antusias ikut arus penumpang untuk turun di kota ini. Satu langkah kakiku di daratan ini, akan mengubah dan memberikan arti pada kehidupan dunia selanjutnya, itu kata2 columbus saat pertama kali mendarat di benua Amerika. Sedangkan saya cukup meneriakkan kata tiga !! yang artinya adalah pulau ke tiga (setelah Jawa dan Bali ) yang berhasil saya tinggali jejak kaki.

Kemudian atas petunjuk dua bapak tua yang kebetulan turun dan tinggal di kota ini, saya pun berjalan kaki dari pelabuhan menuju Losari, sebuah tempat yang konon mempunyai pujasera makanan di pinggir pantai terpanjang se asia tenggara. Iseng, saya masuk ke sebuah warung tenda, memesan seporsi makan malam ( tentu dengan ikan bakar makassar yang terkenal itu ). Sayang karena malam, saya jadi tidak bisa menikmati seluruh suasana pantai. Saya pun memutuskan untuk kembali ke kapal sambil membeli sebotol sirup markisa Bola Dunia sebagai oleh - oleh. Tidak perlu banyak, cukup satu saja, karena perjalanan saya masih panjang, Makassar hanya tempat transit.

Ah Indonesia, saya tidak akan berhenti disini. Jangan pernah mengaku orang Indonesia jika saya hanya lahir, tumbuh, berkembang, berkuasa, dan mati di satu tempat saja. Indonesia bukan hanya Magelang, Indonesia bukan hanya Jawa. Pagi menjelang, KM Lambelu mulai meninggalkan pelabuhan, dengan tujuan selanjutnya pelabuhan bau - bau, di Pulau Buton. Mari siap - siap kita teriakkan EMPAT !!!

Pergi ke Timur - BAU - BAU, BANGGAI

“Nyong lempar nyong !!”

“Nyong lempar nyong !!”

Ah, ingin rasanya saya membuka baju dan ikut terjun ke air untuk berebutan uang logam bersama anak - anak kecil itu. Ya, saya sudah tiba di pelabuhan kecil bau - bau. Sebuah kota kecil yang kata seorang teman ibarat kita menjatuhkan sebuah jarum saja, semua penghuni kota akan mendengarnya. Pendapat yang berlebihan tentu saja.

Penumpang kapal dengan senang melemparkan beberapa uang koin yang mereka miliki, dan anak - anak itu tanpa lelah terus, terus, dan terus saja menyelam untuk saling berebut dengan teman - temannya. Mereka anak - anak Indonesia yang dikaruniai kekuatan jantung dan pernafasan yang luar biasa.

Saya pernah merasa gendang telinga sakit seperti tertusuk dan hanya mampu berada di dalam air selama dua menit di kedalaman empat meter, sementara mereka mampu bertahan 4 menit dan menyelam jauh lebih dalam tanpa alat bantuan apapun. Ismail Alrip, teman yang baru saja saya kenal dari Makassar melarang saya untuk ikutan “mandi”, karena kapal ini hanya transit kurang lebih 1-2 jam saja di pelabuhan kecil ini. Akhirnya saya pun membatalkan niat bergabung dengan anak - anak itu dan memilih berkeliling untuk melihat kota bau - bau.

Saya memang bukan si Roy, yang dengan melakukan perjalanan, juga sekalian membuat tulisan - tulisan perjalanannya yang kemudian dimuat oleh sebuah majalah, sehingga dia bisa terus membiayai sendiri perjalanannya. Jadi, saya memutuskan untuk tidak tinggal sejenak di kota ini mengingat budget yang terbatas.

Oh ya, di sekitar Pulau Buton ini ( bau bau terletak di Pulau Buton, Pulau ke empat yang berhasil saya singgahi ) ada sebuah taman laut nasional yang terkenal keindahannya, namanya Wakatobi. Memang taman laut ini kalah tenar dengan taman laut bunaken maupun taman laut banda, tapi sekarang justru disitu letak keunggulannya. Bunaken sekarang sudah cukup kotor dan mulai kehilangan keindahan terumbu karangnya karena kurangnya sosialisasi tentang pelestarian taman laut tersebut.

Oke kita tinggalkan cerita tentang bau - bau. Kapal sekarang berlayar menuju ambon. Tapi saya sepertinya lebih suka untuk menceritakan Banggai terlebih dahulu. Sebuah daerah kecil, tempat kapal biasa transit, tetapi tidak bisa bersandar. Artinya, kapal tetap mengapung di lautan, sekitar 50 meter dari daratan, sehingga baik penumpang yang naik maupun yang turun harus diangkut dengan perahu - perahu kecil nelayan.

banggai1

Nah yang unik di persinggahan Banggai ini, ternyata perahu - perahu kecil itu disamping mengantar jemput penumpang, ternyata sebagian juga berjualan. Cara berjualannya cukup unik. Penumpang dari atas kapal berteriak meminta barang dan menanyakan harga kemudian setelah sepakat, barang akan diantar dengan keranjang bambu yang dinaikkan dengan sebuah galah panjang. Kemudian pembeli meletakkan uang sesuai dengan harga yang disepakati di keranjang bambu tersebut.

Ah indahnya asas kepercayaan yang mereka bangun. NIlai - nilai yang seperti ini sepertinya yang sudah mulai berkurang dari bangsa ini. Dan saya bersyukur mendapatkannya disini.

Iseng saya ikutan pesan sebuah durian dan sebuah makanan yang namanya saya lupa. Sejenis lemper, tapi dibakar dan di dalamnya berisi sayatan halus daging ikan laut ( di Ternate Maluku Utara dan Sulawesi Utara dinamakan Nasi Jaha’). Hohoho…enak betul.

Perjalanan kemudian berlanjut. Disekitar kiri kanan badan kapal sesekali terlihat sekawanan ikan terbang yang seakan seperti ingin berkenalan dan mengajak bercanda. Lautan kita memang luar biasa. Luar biasa luasnya, luar biasa potensinya. Sungguh sayang negeri ini tidak maksimal memanfaatkan keunggulan alam ini. Bayangkan 2/3 wilayah negara kesatuan Indonesia ini terdiri dari perairan, kenapa kita masih saja menitikberatkan pembangunan dan pengalokasian APBN pada sektor darat macam industri dan pertanian ?

Dan kenapa baru pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid baru terpikirkan untuk membuat sebuah kementerian kelautan ? Laut kita selama ini hanya menjadi tempat pembuangan limbah asing dan surga bagi para penangkap ikan dari negara2 maju yang mempunyai kapal - kapal canggih. Sementara potensi berupa sumber daya ikan, rumput laut, juga pariwisata belum tergali benar. Saya setengah menyetujui pendapat teman saya Iq, yang dalam sebuah perbincangan di milis pernah mengatakan : andai semua potensi wisata laut kita bisa kita kelola dengan baik, bisa jadi tidak akan ada penduduk Indonesia yang miskin.

Tujuan selanjutnya, kembali ke daratan besar pulau sulawesi, BITUNG. Setelah itu kemudian, mengakhirinya di TERNATE !!

Pergi ke Timur - BITUNG, TERNATE

Bitung !!! Saya kembali menemukan daratan besar. Setelah sekian lama terombang-ambing dari Baubau, Banggai, hingga Pulau Seram ( Ambon ), akhirnya saya kembali ke salah satu dari 5 pulau besar utama di Indonesia, Sulawesi. Oh ya, selama di Sulawesi Utara ini saya pernah menyusuri sebuah sungai yang berujung pada air terjun Tinoor ( baca : tino or ), dan menikmati Taman Laut Nasional Bunaken. Sayang sekali, saat itu saya ( baca : ganteng ) menemukan arus laut yang membawa sampah yang jujur saja agak mengganggu gerak dan kepuasan kita dalam menikmati taman laut.

Dua orang bule yang berenang melintas di depan saya tampak sibuk memberi peringatan kepada beberapa wisatawan domestik yang bersnorkel untuk tidak sembarangan menginjak terumbu karang saat mereka kecapekan berenang. Bule disini lebih peduli terhadap kelestarian alam milik bangsa kita, sodara - sodara.

bunaken

Dan di pelabuhan bitung ini saya menyaksikan sebuah adegan yang mirip dalam film atau sinetron, adegan seorang pencopet yang ketahuan dan segera dipukuli bersama - sama.

Selalu begitu. Saat ekonomi dan biaya hidup menjadi bayangan menakutkan, manusia selalu berpikir untuk survive yang sayangnya lebih menyukai jalan pintas dibaniding jalan utama yang kendati lebih panjang tetapi menjanjikan keselamatan.

Dari pedagang gorengan yang mencampur plastik demi tahan lamanya ke-crispy-an dagangannya, penjual tahu dan ikan yang memakai formalin untuk mengawetkan, pemakaian bahan pewarna kain pada jajanan anak yang warnany lebih menarik dan murah, pemalsuan produk sabun, obat, hingga minuman, hingga kasus jalan pintas pencopet tadi.

Sebenarnya orang Indonesia selalu kreatif dalam menghadapi masalah bukan ? Ah saya tidak mau berlama - lama merenungi sisi negatif bangsa kita ini. Keindahan alam Indonesia ini lebih menarik untuk dibahas dan dinikmati. Saya kembali menatap ke depan saat stoom kapal kembali berbunyi. Kapal sekarang menuju kota Ternate, Maluku Utara.

Lihat bagian belakang uang kertas seribuan anda, dan bandingkan dengan gambar di bawah ini. Yap, inilah Pulau Maitara ( penduduk ternate lebih suka menyebutnya Metara ) dengan latar belakang Gunung Kie matubu yang ada di daratan Tidore. Saya sudah sampai di Ternate teman - teman. Daratan yang indah, indah , indah luar biasa !!

maitara1

Saat kapal mendekati perairan Maluku Utara, kita pertama akan bertemu dengan Pulau Hiri di sisi kiri kapal, Pulau yang konon dihuni oleh banyak orang - orang sakti pembela Sultan Ternate. Pulau Ternate sendiri ada di sisi kanan kapal.

Ternate ini sebenarnya menurut saya bukan lah pulau, tetapi hanya sebuah gunung yang muncul di tengah lautan, tetapi lerengnya agak landai sehingga bisa dijadikan tempat tinggal manusia. Disinilah saya singgah untuk menikmati suasana Maluku Utara.

Orang ternate ternyata tidak mengenal arah angin. Mereka hanya mengenal arah ke Dara ( ke darat untuk menyebut ke arah gunung gamalama ), ke lao ( ke laut, untuk menyebut arah ke laut ), ke bawah ( sebutan untuk daerah ternate selatan ), dan ke atas ( sebutan untuk daerah ternate utara ). Itu dikarenakan bentuk pulau ini yang melingkar dengan jarak keliling pulau sekitar ± 40 KM saja.

Penduduknya lumayan ramah dan tidak mengenal sarapan pagi. Makanan khas disini mirip di Manado Sulawesi Utara. Ada pisang goreng sambal ( pisang diiris tipis digoreng kering -kadang hingga keras- dan makannya pakai sambal ), papeda ( sejenis sagu yang diolah hingga jadi makanan mirip lem ), air guraka ( sejenis air jahe, di Manado namanya Sarabak. pertama kali dengar namanya saya langsung terbelalak sambil nanya ulang : air durhaka ?!!), nasi jaha’ ( sejenis lemper, nasi dibungkus daun pisang dengan ikan hancur di dalamnya, dan dibakar. Pertama kali saya dengar saya kembali terbelalak sambil bertanya ulang : nasi jahat ?!! ), hingga makanan khas manado macam dabudabu manta dan bubur manado. Dan jangan heran kalo saya disini juga pernah merasakan buah pisang disayur, ha ha ha ha ha .

Bahasanya juga aneh, setengah bahasa Indonesia, setengah bahasa daerah. Kucing mereka sebut Tussa, semut mereka bilang bifi, dan monyet mereka bilang panta merah ( pantat merah ) atau…..yankis !! Bayangkan jika disitu ada orang New York, tentu mereka bakal dongkol setengah mati ( penduduk New York biasa disebut sebagai Yankee )

Masyarakat Ternate memang sangat majemuk. Banyak warga asli, banyak pendatang dari Sulawesi Utara, banyak orang Makassar, banyak orang jawa ( terutama jawa timur ), orang Arab, hingga orang China.

Di sebelahnya, penduduk Pulau Tidore siap menyajikan keramahan dan kekeluargaan versi mereka. Saya mengenal kekuatan terbesar rasa kekeluargaan ya dari orang Tidore ini. Bayangkan saja, penduduk kampungnya rela patungan demi membiayai beberapa anak dari desa mereka yang dianggap mampu untuk meneruskan sekolah hingga jenjang yang lebih tinggi.

Kemudian, jika ada satu orang tidore punya hajatan ingin membangun rumah di suatu tempat di luar tidore, orang2 sekampungnya akan dengan sukarela datang membantu membuatkan rumah tanpa meminta imbalan upah. Hebat bukan ? Ah, sebenarnya masih banyak yang ingin saya ceritakan tentang Indonesia timur ini. Indonesia yang luar biasa.

Saya hanya bisa bersujud syukur karena telah diberi kesempatan oleh Alloh untuk melakukan perjalanan bahari keliling Indonesia Timur, menikmati pucuk2 atap gunungnya, hingga mendapatkan banyak pengalaman yang sepertinya akan dengan bangga saya ceritakan pada anak cucu saya nanti. ” Anakku, cucuku, pergilah ke mana pun kamu mau, tidak satu pun tempat di bumi ini Alloh ciptakan dengan sia - sia “

Desember 10th, 2009

Trip to Rinjani

Posted by beruangqutub in Perjalanan

Rinjani Day-1

05.30 WITA

Selamat pagi Mataram !!! Kenalkan, nama saya Kholid, makhluk kecil yang lagi sms-an di pinggir kasur itu bernama Trio, yang masih terbungkus rapat dengan selimut itu bernama I Hate Monday a.k.a Kugelfang, dan yang terkapar di sisi ranjang yang lain itu bernama Henry. Kami berempat sabtu pagi ini sedang berada si sebuah kamar hotel Nitour Mataram dalam rangka persiapan mendaki gunung Rinjani ( 3726 mdpl ), gunung berapi tertinggi ke dua di Indonesia.

Sore sebelumnya kami masih di Bandara Soekarno- Hatta. Saya sudah lama kenal dengan Trio dan Monday. Henry baru saya kenal di bandara itu dan langsung membuat saya ngakak karena dia sukses merubuhkan sebuah papan iklan gara – gara jalan sambil meleng. Trio orangnya cukup cuek. Dan Monday, rasanya cukup takjub dengan penerbangan pertamanya seumur hidup. Ralat, bukan takjub pada penerbangannya, tapi takjub sama pramugarinya !!

Sambil ngaca dan menunggu dua sohib saya bangun dari tidurnya, saya mematut – matut diri dengan bangga. Ah, pantas saja, kemarin ada cewek – cewek yang histeris memanggil saya : ” Mas Neo, mas Neo !” Mungkin karena wajah saya mirip Keanu Reeves. Tapi setelah saya kembali mencermati cermin, kemudian dugaan lain muncul. Jangan – jangan, cewek – cewek itu memanggil saya mas Neo bukan karena saya mirip Keanu Reeves, tapi justru mirip artis dangdut yang membintangi iklan obat Neo Rheum*ch*l !!!

Sarapan pagi berupa roti panggang dan kopi yang disediakan pihak hotel segera saya sikat tandas. Bahkan jatah punya Trio juga nggak ketinggalan saya sikat. Persiapan nimbun banyak2 kalori buat menghadapi udara dingin di Rinjani nanti. Saya segera menghubungi jeng berandal, sobat saya yang ada di Bali, untuk mengetahui waktu sholat yang berlaku di Bali, NTB, dan sekitarnya, untuk antisipasi tidak terdengarnya adzan di gunung nanti, dan tidak adanya sinyal telepon seluler.

09.00 WITA Kami ke Mataram mall untuk membeli sejumlah perlengkapan dan logistik tambahan. Disini sempat terjadi keributan antara Trio dan Henry yang saling berebut sebuah raincoat buatan Eiger. Untuk barang yang satu itu, saya sepakat pada pendapat bahwa, “hanya orang gila yang mau mengalah”

mall

Setelah dirasa cukup, kami kembali ke Nitour dan mulai berkemas. Sebagian menu makan siang yang masih tersisa kami bungkus untuk bisa kami konsumsi sore nanti di Sembalun Lawang. Jam 13.10 WITA kami sudah duduk manis di sebuah taksi yang disupiri oleh pemuda berkumis layaknya andi malarangeng, Marulin namanya. Sengaja kami memilih Taksi karena pertimbangan waktu, supaya lebih cepat dan tidak kemalaman sampai di Sembalun Lawang ( Ngêlès, padahal emang manja gak mau naik elf yang jalannya pelan dan suka ngetem lama ).

Salut buat Pemerintah Lombok yang sudah membuatkan jalan bagus menuju Sembalun Lawang. Henry kembali membuat kami tertawa ketika kami tahu ternyata dia paling anti naik taksi. Makhluk liar yang pernah memimpin sebuah organisasi pecinta alam di kampusnya, tahan segala cuaca, dan berstamina bagus ini rupanya mabok taksi !!

Sekitar jam 15.00 WITA kami sampai di sebuah belahan bukit di sekitar Sembalun. Kami benar – benar dibuat takjub dengan pemandangan disini. Bahkan Marulin yang asli putra Lombok pun ikutan berseru kagum dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Rupanya dia baru pertama kali juga menginjakkan kakinya disini.

taksi1taksi2

15.25 WITA.

Kami sudah sampai di Pos Reservasi Sembalun Lawang. Entah karena baik hati, atau kasian melihat wajah – wajah memelas kami, akhirnya petugas pos reservasi mengijinkan kita untuk menginap semalam di pos itu. Lumayan lah, irit ongkos daripada sewa penginapan.

aklimatisasi

Sore itu kami habiskan dengan aklimatisasi udara Sembalun Lawang dan menikmati beberapa bukit di sekitar tempat itu yang menyajikan pemandangan luar biasa.

Rinjani Day-2

04.00 WITA

Sesuai kesepakatan, kami bangun dan mulai mempersiapkan diri. Kami sudah bilang ke porter untuk datang tepat waktu, dan setelah sholat shubuh kami bisa langsung berangkat. Sengaja mengambil waktu mendahului ayam jantan supaya kami tidak terlalu lama tersiksa di medan padang sabana yang mematikan dan mengancam kulit halus kami sehingga profesi jadi fotomodel pun ikutan menjadi taruhannya.

Tapi apa lacur (sudah lama saya gak pernah baca dan dengar kata ini. Apa lacur arti sebenarnya apa ya ? ), porter datang amat sangat super duper telad. Makhluk tua dengan sebuah tongkat ini datang sekitar jam 6.25 WITA, saat matahari sudah mulai tersenyum bengis melihat calon korbannya yang akan dimangsa di padang sabana kelak. Hancur sudah profesi masa depan kami sebagai foto model.

06.35 WITA Kami berangkat berlima, saya, Monday, Trio, Henry, dan Porter yang bernama Askar. Beruntung medan awal yang berjarak ratusan meter masih berupa trek mendatar, sehingga bisa kami jadikan pemanasan awal sambil mengatur nafas. Medan awal ini berupa jalan setapak yang melewati beberapa ladang dan kebun penduduk setempat.

awal-perjalanan1

Kami layaknya lima huruf Qolqolah. Tegar, bandel, dan siap memantulkan kembali semua rintangan. Menurut cerita Askar, satu atau dua hari lalu baru saja terjadi perampokan beberapa pendaki bule yang mendaki tidak ditemani oleh porter. Entah ini cerita benar atau hanya sebuah rekaan untuk menaikkan nilai penting si porter.

Selain tentang perampokan, Askar juga menceritakan tentang kebakaran padang sabana yang baru saja terjadi. Oknum tersangka dari pembakaran ini adalah para peternak yang sengaja melakukan pembakaran dengan tujuan untuk mendapatkan rumput baru yang hijau bagi ternak mereka. Ini foto saat kami sampai di TKP padang sabana yang terbakar.

sabana-terbakar1

Matahari sama sekali tidak mau diajak bernegosiasi, mungkin takut dengan KPK. Keringat sudah mulai membasahi baju. Kondisi ini membuat kami harus sesekali berhenti untuk sekedar menarik nafas, dan mengumpulkan tenaga kembali. Karena hanya ada rumput setinggi pinggang disini, kami pun tidak bisa berteduh dan harus rela istirahat di tengah – tengah panggangan sinar matahari. Bahkan negosiasi kami dengan awan pun gagal.

sabana-terbakar2

Sekitar jam 09.35 kami sampai di Pos I. Disini kami meletakkan beban sejenak, membelah dua buah apel untuk berempat, meneguk air, meluangkan waktu untuk sesi pemotretan, dan kemudian jalan lagi. Coba lihat pic di bawha ini, puncak Rinjani dilihat dari Pos 1. Deket kan ? Deket Mbahmu kiper ?!!!

pos-1-rinjani

Porter bilang, Pos 2 jaraknya tidak jauh, hanya sekitar 30 menit dari Pos 1. Dan benar adanya, sekitar jam 10.15 WITA kami sampai di Pos 2. Mengingat kami pagi tadi tidak sarapan dengan layak, akhirnya diputuskan di pos 2 ini kami mulai masak makan siang. Makan siang dipercepat.

pondok-pos2

12.10 WITA

Kami berangkat dari Pos 2. Menurut keterangan beberapa porter, hari ini kami adalah satu – satunya rombongan yang beranggotakan pribumi semua. Memang sebelumnya, kami sempat menyalip dan disalip oleh beberapa orang bule. Mirisnya, para bule itu hanya menenteng satu atau dua day pack kecil sedangkan barang – barang berat berupa logistik utama, tenda, dan sebagainya diserahkan ke para porter. mungkin perbandingannya satu bule dua porter. Duh, jadi inget jaman penjajahan dulu ( emang kamu ngalamin, mbah ?)

Pelan (dan meragukan ) dengan sedikit memaksa, kami akhirnya mencapai pos 3 sekitar jam 13.55 WITA. Itu artinya kami 15 menit lebih cepat dari waktu yang diperkirakan oleh Porter Askar. Di Pos 3 ini kami istirahat, Sholat Dhuhur dan melakukan skedul ulang. Perkiraan kami akan mencapai Puncak Plawangan Sembalun, tujuan akhir hari ini, sekitar jam 19.00 WITA. Akhirnya kami putuskan untuk tetap meneruskan perjalanan dan membuat Base Camp di Plawangan Sembalun (2866 mdpl).

pos2padang-sabana

Medan masih didominasi oleh padang sabana. Matahari makin panas saja. Saya jadi ingat tentang joke bahwa global warming salah satunya disebabkan oleh Matahari yang suka sembarangan buka cabang di mana – mana, hehehe. Mulai ketinggian 2700 mdpl, kami bisa mendapatkan beberapa pohon yang lumayan menolong untuk dijadikan tempat berteduh sejenak. Sholat ashar pun saya tunaikan dengan bertayamum dan dilakukan di atas matras di bawah sebuah pohon kecil.

Menjelang Plawangan Sembalun saya berpapasan dengan porter Askar yang rupanya sudah sampai duluan, mendirikan tenda, dan balik lagi untuk menjemput Trio yang sepertinya kondisinya mulai drop. Angin bertiup sangat kencang, saya khawatir ini akan berakhir menjadi badai. Senter, sarung tangan, dan jaket sudah saya keluarkan dari carrier.

18.30 WITA Saya sampai di Plawangan Sembalun. Monday dan Henry sudah duluan ada di tenda yang jaraknya masih sekiat 15 menitan dari tempat saya berdiri. Saya segera mengambil tayamum dan sholat Maghrib. Salah satu sholat yang paling berkesan dalam hidup saya, karena dilakukan di atas sebuah gunung, diantara sengatan dingin yang membekukan, dan dihadapkan pada eksotisnya pemandangan segara anakan nun jauh di bawah sana. Subhanalloh !!

Malam menjelang, badai mengamuk. Dengan makan ala kadarnya, setelah sholat Isya di tenda ( saya baru sadar bahwa saya telah kehilangan kompas saat sholat maghrib tadi, lupanya saya lupa meletakkan kompas itu di pasir untuk mencari arah kiblat sebelum sholat dan tidak memungutnya kembali.

Rencana jam 02.00 WITA pagi, kami akan bangun dan memulai perjalanan menuju puncak menangkap cahaya matahari pertama. Itu juga dengan catatan badai mereda dan kondisi Trio membaik. Kami pun tidur dalam ketidaknyamanan terpaan badai yang membuat suara gaduh dan seakan berusaha merobohkan dua tenda kami. Dari tenda sebelah lamat saya mendengar suara batuk dan muntah Trio. Anak itu sedang dalam masalah.

Rinjani Day-3

02.00 WITA

Alarm berdering. Mencoba mencari makna diantara kegaduhan angin kencang yang menerpa tenda kami dan membuat suara penuh keributan. Saya terbangun dari tidur dan mencoba membaca situasi. Sepertinya dari tenda sebelah yang dihuni Trio dan Monday tidak ada tanda persiapan. Batuk Trio sesekali terdengar. Kami membatalkan jadwal mendaki ke puncak dini hari ini. Saya kembali merapatkan kancing sleeping bag, benda yang bersama jaket dan sarung tangan sudah didesain untuk melawan dingin cuaca bersalju ini berkali – kali menolong saya dari sengatan dingin. Alarm saya set ulang untuk membangunkan kembali jam 05.00, waktu sholat Shubuh daerah Sembalun ini.

05.10 WITA Bangun, mengumpulkan nyawa dan kesadaran saya yang berserakan entah dimana, kemudian memberanikan diri keluar tenda sambil membawa sajadah dan mengambil tayamum untuk sholat shubuh. Sajadah harus ditindih batu supaya tidak terbang. Saya sholat diantara deru angin yang masih saja tidak bersahabat. Selesai sholat, sambil tetap menggunakan syal, sarung tangan, dan jaket saya coba menunggu rekah pertama matahari.

rinjani-sunrise

Bosan dengan matahari pertama, iseng saya bangunkan tenda sebelah. Dari situ saya tahu, ternyata beberapa paku tenda yang kami tancapkan dalam – dalam ke tanah, dua diantaranya sudah tercerabut dari tempatnya. Badai semalam memang luar biasa. Pagi ini kondisi sudah lumayan reda, kendati angin tetap bertiup kencang.

camppuncak1

Pagi itu juga, kami melakukan skedul ulang perjalanan. Trio menyarankan untuk muncak besok pagi, menunggu dia fit. Tapi mengingat dan menghitung ulang logistik yang kami punya, akhirnya diputuskan kami bertiga, Saya, Henry, dan Monday, akan muncak hari ini. Trio tinggal bersama porter di tenda. Trio menolak, dan meminta porter ikut bersama kita, karena dia merasa cukup kuat untuk menjaga dua tenda kami.

06.40 WITA Setengah hati saya melakukannya, karena bagi saya, tak muncak pun tak apa. Yang penting kebersamaan tim selalu terjaga. Kami bertiga plus porter pun berangkat menuju puncak. Dan saya dengan bodohnya mengulangi kesalahan yang sama, yaitu tidak sarapan lagi !!. Langkah kami menuju puncak adalah melewati medan berpasir. Sungguh saya tidak rela saat setiap dua langkah kaki, harus terseret satu langkah kembali ke bawah. Sama tidak relanya saat mengetahui tunjangan bulanan saya harus dipotong ratusan ribu per bulan hanya gara – gara telat ngantor dalam hitungan detiknya mesin fingerprint.

camp_dr_atas

Angin masih kencang berhembus, perlahan tapi tidak cepat ( ya iya lah ), meter demi meter ketinggian kami lahap. Matahari meninggi, tapi dingin tetap tidak mau pergi. Hanya edelweiss yang mampu hidup di ketinggian ini, sebagian diantaranya sudah tercerabut dari tanah karena badai semalam.

Mulai ketinggian ± 3400 mdpl, kami dihadapkan pada medan terbuka, jalur ini akan mengingatkan kita pada jalur menuju puncak Gunung Agung di Bali. Sebelah kiri kami ada jurang lereng dan sebelah kanan ada jurang menuju kawah. Angin kencang memaksa kami untuk berjalan tidak terlalu cepat. Dan kami harus memanfaatkan celah – celah gundukan tanah atau batu sebagai tempat istirahat saat lelah datang.

puncak2puncak3

Gunung barujari yang ada di tengah – tengah danau segara anakan ( tujuan kami berikutnya setelah turun dari puncak ) tampak indah tak terkita di bawah sana

puncak5

Monday yang sedianya membawa satu daypack berisi sedikit logistik, ternyata setelah kami buka isi tasnya, hanya berisi beberapa sachet madu, charger hp ( yang hpnyapun tidak dibawa ), dan sebuah parfum deodorant !! Hahahaha…. Beruntung dua dari kami berhasil sampai puncak Rinjani ( 3726 mdpl ) tepat jam 11.00 WITA. Dari keterangan beberapa porter, badai hari ini menggagalkan banyak pendaki untuk mencapai puncak. Saat itu hanya ada 4 orang yang berhasil mencapai puncak, dan dua diantaranya dari tim kami.

Tidak berlama – lama di puncak, kami memutuskan untuk turun, karena angin tidak juga mau diajak berkompromi. Kami kembali mencapai base camp Plawangan Sembalun sekitar jam 12.30 siang. Kemudian saya dan porter turun beberapa ratus meter ke bawah untuk mengambil air dari mata air yang ada, untuk makan siang dan untuk perbekalan perjalanan berikutnya menuju danau segara anakan nun jauh di bawah sana. Berikut ekspresi yang berhasil mencapai puncak dan yang gagal mencapai puncak , di antara kabut base camp plawangan sembalun yang mulai menebal:

khakilangid1

14.00 WITA

Ba’da sholat dhuhur dan makan siang, kami mulai membongkar tenda, packing ulang, dan bersiap menuju ke danau segara anakan. Porter Askar bilang, mungkin kami bisa mencapai danau sekitar pukul 17.00. Dan dia akan menunjukkan beberapa jalan pintas yang bisa menghemat tenaga dan waktu 14.30 WITA kami turun dari Plawangan Sembalun. Yang disebut sebagai jalan pintas itu ternyata adalah sebuah jalan kecil yang sangat curam, berhadapan langsung dengan jurang berbatu. Beruntung kondisi lumayan berkabut sehingga saya tidak bisa melihat kondisi dasar jurang. Maklum , saya punya penyakit takut ketinggian.

kabut1

Perjalanan ternyata tidak semudah yang kami kira. Medan berbatu naik, turun, memutar, dan sesekali memaksa harus merayap, membuat stamina habis – habisan. Porter Askar sudah jauh menninggalkan kami di depan. Tinggal kami berempat yang mencoba menebak jalan menuju danau. Entah nyasar atau apa , yang jelas perjalanan ini terasa lama sekali dan berputar – putar tidak jelas. Masak untuk turun ke bawah, jalan harus memutar naik lagi beberapa ratus meter ?

kabut21jembatan

17.25 WITA

Akhirnya kami sampai di tempat yang dituju. Tidak sabar kami berempat berlari menghampiri danau yang masih sekitar 50 meteran di depan. Tidak peduli semak belukarpun kami terobos. Porter Askar sudah menanti dan sedang mulai mendirikan tenda.

danau1

Subhanalloh, pemandangan yang luar biasa terpampang di depan mata kami. Seperti mimpi. Henry sampai tidak tahan untuk tidak berteriak dan menghambur ke arah danau. Dalam dingin yang menggigit saya mengambil air wudhu dari danau dan segera melakukan sholat Ashar. Sholat yang lagi – lagi amat berkesan, karena setelah sholat dan melihat foto yang diambil oleh Monday, saya baru sadar bahwa saya sholat ditemani oleh babi hutan !!

sholat

Mungkin ini yang dinamakan dengan cinta pada pandangan pertama. Saya langsung jatuh hati dengan Danau Segara anakan, dengan Gunung Baru Jari, dengan semburat cahaya senja yang masih tersisa dan mencoba memberi kehangatan – kehangatan terakhir untuk air danau dan sang gunung. Dan bisa ditebak, sesi pemotretan pun dimulai !!!

danau21danau32

Malam itu kami membuat camp di pinggir danau segara anakan. Saya tidur dengan Askar yang ternyata malam punya acara k0nser ( dengkuran ) sendiri. Monday terkena serangan kelelahan. Trio masih memuntahkan semua makanan dan minuman yang masuk ke perutnya. Tinggal Henry yang masih bertahan membuat api sendiri di depan dua tenda kami. Malam itu kami lewatkan dengan tidur kedinginan diantara suara anjing hutan dan babi hutan yang ternyata begitu berani mendekati kedua tenda kami saat api sudah dimatikan.

Rinjani Day-4

05.30 WITA

Posisi camp yang ada di dalam ceruk, terhalang oleh dinding – dinding kawah, membuat cahaya fajar dan matahari terlambat masuk. Dan saya juga nyaris terlambat sholat shubuh. Selesai sholat dalam gigilan karena pelukan udara dingin, saya kembali masuk tenda dan mencoba mengambil gambar danau dari dalam tenda seperti ini.

danau_pagi

Pagi ini saya dan Monday menyempatkan mengunjungi lokasi sumber air panas yang terletak sekitar 200 meter dari camp kami berdiri. Rupanya tempat pemandian itu sudah cukup ramai, ada yang berendam, ada yang sedang memasak ikan hasil tangkapan dari danau, ada yang lagi maen bola, ada yang lagi lempar lembing, ada yang bulutangkis, ada yang panahan ( lu katè ini senayan !! )

air_panas

Selesai mandi, saya dan porter mencoba menyambangi para pemancing dan mencoba membeli ikan hasil tangkapan mereka. Sekedar informasi, oleh pemerintah setempat, danau ini memang sengaja ditebari bibit ikan yang diharapkan bisa berkembang dan menjadi bagian dari konsumsi masyarakat sekitar. Dan hari ini kami hanya mendapatkan satu ekor ikan besar dari seorang pemancing tua. Cara belinya ? kami barter dengan beras kami yang kebetulan masih banyak tersisa. Para pemancing ini memang asli penduduk sekitar wilayah sembalun-senaru yang kadang berhari – hari sengaja nginep di tepi danau untuk memancing. Hasil tangkapannya kadang dibawa pulang, kadang juga dijual ke beberapa pendaki yang kebetulan sedang melintas.

09.00 WITA

Dan taukah kawan, jika ada pemilihan keajaiban dunia yang ke 8, maka saya akan memilih Trio lah keajaiban itu. Dengan kondisi tidak ada asupan makanan ( bahkan susu pun dimuntahkan ) sedikitpun, dia masih menatap optimis untuk menyelesaikan perjalanan dengan memanggul beban tas carrier nya sendirian. Padahal medan yang akan kami lalui adalah seperti ini :

medan_berikut

Selamat tinggal danau segara anakan dan gunung barujari. Doakan kami bisa kembali lagi ke sini. Halah.

danau4

Jalan menanjak kami mulai dengan ditandai sebuah jalur berbatu yang memanjang seperti bekas longsoran dengan kemiringan 35-40 derajat. Dan sekitar setengah jam perjalanan, di sebuah tempat yang dinamakan batu ceper saya dan porter berhenti untuk menunggu Henry, Trio, dan Monday. Tak berapa lama Henry datang.

Informasi yang saya dapatkan dari Porter, jarak ke Puncak senaru tinggal dua jam lagi, dan dari puncak senaru ke pos 3 sekitar 1 jam saja. Jadi, kami memutuskan membuat rencana makan siang di pos 3 saja. Porter dan henry pun jalan mendahului kami dengan membawa pesan, begitu sampai di pos 3 segera menyiapkan makan siang. Dan rupanya pesan ini kemudian disalahartikan oleh si porter untuk jalan mendahului dengan membawa hampir semua bahan makanan kita tanpa mempertimbangkan kondisi anggota yang lain. Ini awal dari malapetaka perjalanan yang menuju puncak Senaru !!

Saya , Trio, dan Monday melangkah dan merayap perlahan dengan kondisi persediaan air yang menipis. Kadang jarak kami bertiga berdekatan, kadang berselisih sampai sekitar setengah jam-an. Jika di Gunung Gede jalur Cibodas kita mengenal tanjakan rantai atau tanjakan setan, maka di Rinjani ini tanjakannya setan semua !! Beruntung, medan ini menyajikan hiburan berupa pemandangan – pemandangan eksotis yang luar biasa yang kadang mampu mengalihkan rasa lelah kita menjadi sebuah senyuman kekaguman akan ciptaan NYA.

khakilangid_23-medan_senaru2

Tepat jam 14.00 WITA, kami bertiga ssampai di puncak senaru. Puncak ini ditandai dengan sebuah tanjakan terakhir berupa jalan tengah tegak lurus 90 derajat yang terhimpit diantara dua baru besar, yang memaksa kami memakai dua tangan kami untuk membantu menaikkan badan dan bawaan. Sedikit lengah, kami bisa terlempar ke belakang menggelinding ke jurang.

tepi-jurang

Henry dan Porter yang kami sangka akan menunggu di puncak ini ternyata tidak ada. Satu buah pear tersisa kami belah, dibagi tiga, lumayan untuk pengganjal perut lapar dan kerongkongan yang kering. Duh, andai layanan antar bernomor telpon 14045 itu mau melayani pengantaran sampai di daerah ini, puncak plawangan senaru ini, tentu sudah kami telpon sekarang juga. Sholat Dhuhur pun saya lakukan disini.

Perjalanan antara Puncak Plawangan Senaru menuju Pos 3 kami lalui dengan tertatih, sesekali sedikit berlari, dengan tetap berhati – hati dengan kondisi tapakan kaki. Salah sedikit, bisa terkilir, cedera, dan itu jelas alamat tidak baik untuk perjalanan yang masih panjang tersisa. Sepanjang perjalanan, kami bertemu dengan beberapa pendaki yang memilih jalur senaru untuk memulai pendakian. Bertemu juga dengan sebuah rombongan bule dari Jerman yang mencoba menyapa ramah dengan bahasa Indonesia. Seperti biasa, satu pendaki bule dua porter.

Dan pos 3 pun kami temukan tepat jam 16.00. Henry segera memanaskan makanan, sedangkan Porter Askar saya minta untuk menjemput Trio dan membantunya.

senaru3

17.15 WITA

Kami mulai turun dari pos 3. Porter bilang, sekitar jam 21.00 kami bakal sampai di desa Senaru, desa pertama yang akan kami temui di kaki gunung Rinjani ini. Pos 2 dengan singkat kami capai. Dalam perjalanan menuju Desa Senaru itu, di Pos 1, porter Askar memberi kami pelajaran tentang jenis akar- akaran yang jika dipotong pada dua bagian, dapat mengeluarkan air bersih yang bisa kita minum. Airnya sedikit tapi enak, segar dan sedikit beraroma kayu.

Jam 20.30 WITA kami sampai di gerbang Taman Nasional Gunung Rinjani Desa Senaru. Seperti fatamorgana, kami mendapatkan sebuah rumah, dan satu – satunya, yang sangat sederhana dan menjual sejumlah minuman berkemasan botol. Oh, akhirnya dahaga yang kami alami terpuaskan disini. Kalap kami meneguk botol demi botol minuman itu.

kalap-minum-teh

Tidak lama kami disitu, kami segera melanjutkan perjalanan turun menuju Desa Senaru. Hanya butuh 30 menit untuk menempuh perjalanan itu. Dan kami akhirnya sampai di Pos Reservasi pendakian Rinjani via Senaru. Setelah sempat membeli beberapa souvenir, kami pun merebahkan badan sambil menunggu taksi yang sudah kami pesan untuk mengantar kami menuju Senggigi.

Sayang sungguh sayang, taksi yang datang supirnya tidak dapat dipercaya. Melihat kami adalah pendatang, supir sepertinya dengan sengaja memutar kami melalui jalur yang panjang sampai ke wilayah timur pulau Lombok ini. Padahal Senggigi ada di bagian barat Pulau ini. Sehingga kami memutuskan untuk membatalkan ke Senggigi dan memilih kembali ke Mataram menginap kembali di hotel Nitour. Cerita tentu belum usai, karena besok pagi, kami berencana untuk keliling Mataram, memburu mutiara di Sekarbela, dan menikmati sunset di Senggigi.

Rinjani Day-5

08.00 WITA

Pagi kelima di Pulau Lombok. Malam tadi kami kembali menemukan kasur empuk dan selimut hangat. Dan hari ini rencananya kami akan mengantar Henry ke terminal terdekat, karena dia akan ke Bali untuk bertemu dengan teman lamanya. Sedangkan Saya , Monday dan Trio memilih untuk keliling Mataram dulu, menikmati Senggigi, baru kemudian pulang.

air1

Setelah packing dan menyelesaikan segala urusan administrasi hotel Nitour, kami pun segera menuju Taksi bli Marulin, si supir taksi berkumis ala Andi Malaranggeng yang ternyata kami sukai pelayanannya. Tujuan pertama kami adalah membeli tiket pesawat.

Tahukah kawan, tantangan dan rintangan terberat dalam pendakian kali ini ternyata bukan sengatan padang sabana, kerasnya terjangan badai, dinginnya udara plawangan sembalun, ataupun terjalnya jalan jalur Senaru. Melainkan, tantangan dan rintangan terberat itu adalah berupa rasa kangen, rindu haru biru, terhadap istri dan anak di rumah. Sampai di tempat penjualan tiket, saya memutuskan untuk pulang besok dini hari. Sedangkan Monday dan Trio, akan mampir ke Bali dulu, bertemu Tommy, rekan yang kami kenal pertama saat mendaki Gunung Gede tahun 2005 lalu.

Selesai dengan urusan tiket, kami meluncur ke Sekarbela untuk melihat kerajinan mutiara. Disitu saya membeli tiga set perhiasan dari mutiara untuk oleh – oleh. Satu untuk istri, satu untuk ibu mertua yang kebetulan tinggal tidak jauh dari rumah kami, satu lagi buat vodkavibe, cewek rekan sekantor yang dengan rela meminjamkan kameranya untuk dibawa menemani pendakian ini.

Selesai dengan urusan oleh – oleh, kami langsung menuju Senggigi. Dan bos Trio pun berulah dengan mengajak kami menginap di Holiday Inn Lombok. Padahal saya dan Monday tadinya berpikir , kami semua akan menginap di hotel yang bertarif 30-50 ribuan semalam saja, atau malah sukur2 bikin tenda aja langsung di tepi pantai. Tentu saja saya dan Monday tidak menolak tawarin ini. Disamping tidak sopan menolak tawaran kebaikan dari orang lain, pada dasarnya kami memang belum pernah menginap di hotel berbintang. Hahahaha…gembel udik.

catur-holiday-inn

Tapi sepertinya kami tidak perlu menyesali keputusan ini. Karena dengan menginap disini, kami bisa menikmati pasir lembut senggigi sepuasnya, mengabadikan sunrise, dan memandang siluet Gunung Agung sambil berandai – andai kapan kami akan berdiri di puncaknya.

senggigi

Jika ada waktu lebih, dan diberi kesempatan lagi, saya akan balik kesini lagi, Pulau Lombok ini, untuk menuntaskan rindu pada Rinjani, Kuta Lombok, dan menyeberang ke gili – gili di sekitarnya.

siluet

Malam kami lalui bertiga dengan saling berbagi cerita dan menikmati Ayam bakar Taliwang + plecing kangkung, menu dari hotel ini, yang harganya Rp.75.000,- / porsi. Dan pagi shubuh, saya sudah tiba di Ampenan, bandar udara di Lombok, untuk kembali ke Jakarta, bertemu dengan istri dan anak saya, RajaWali.

Thx to :

  1. Alloh Ta’ala, seindah indah pencipta keindahan
  2. Istriku. Dgn ijinmu aku berangkat, tanpa ijinmu aku nekat. Hahaha
  3. King Ale. yang rela ditinggal seminggu, begitu ketemu langsung peluk erat tak mau lepas
  4. Trio, Monday, dan Henry. Rekan – rekan seperjalanan Para pengelola TNGR, dua jempol dah
  5. Askar si porter dan Marulin supir taksi.
  6. Jeng Berandal, atas info waktu sholat nya
  7. Vodkavibe, yang rela minjemin kamera dengan 4 resiko : ilang jatuh ke jurang ATAU kecemplung di danau ATAU ketinggalan di hotel ATAU kejual !! hahahaha….
  8. Semua pihak yang tidak tersebutkan yang sudah banyak membantu
Agustus 8th, 2009

Halo dunia!

Posted by beruangqutub in Tak Berkategori

Selamat Datang Blogdetik.com. Ini merupakan postingan pertama Anda. Silahkan Edit atau hapus postingan ini, dan mulai ngeblog!

  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta

    • Subscribe to RSS feed
    • The latest comments to all posts in RSS
    • Subscribe to Atom feed
    • Powered by WordPress; state-of-the-art semantic personal publishing platform.
    • Firefox - Rediscover the web