Pergi ke Timur
Pergi ke Timur - SURABAYA
Tubuhnnya yang seukuran dua kali badan saya tampak kukuh menenteng sebuah carrier 80 liter terisi penuh. Menapaki tangga demi tangga, beradu dengan para TKBM ( Tenaga Kuli Bongkar Muat ) dan penumpang lainnya. Saya bersyukur karena dengan itu saya tinggal mengikutinya dari belakang sambil cukup menenteng day pack dan tas pinggang yang juga tidak kalah sarat oleh berbagai macam barang yang ada di dalamnya.
Seharusnya kami berdua tidak perlu bersusah payah begini andai semua penumpang ( baik penumpang yang turun maupun calon penumpang yang akan naik kapal ) dan para TKBM mematuhi aturan PELNI, penumpang turun lewat tangga lantai empat, dan penumpang naik lewat tangga lantai dua. Tapi ini Indonesia bung, penumpang yang ada di lantai dua atau tiga tentunya malas buat naik ke lantai empat, sehingga lebih memilih turun lewat lantai dua, bertabrakan dengan para calon penumpang yang akan naik.
Begitu juga dengan para kuli TKBM, yang lebih memilih naik lewat tangga lantai empat, berusaha mendahului para rekan mereka yang naik dari lantai dua, demi menjemput rejeki, memberi jasa angkut bagi penumpang yang turun dari kapal. Maghrib sudah menjelang, saat saya dan Hid, kakak sepupu saya yang berbadan besar tadi, mendatangi bagian informasi di dalam kapal itu untuk menunjukkan tiket dan mengambil kunci kamar. Saya diharuskan menitipkan uang sebesar Rp.10.000,- sebagai ganti kunci kamar yang saya terima. Kemudian, masih dengan langkah tergesa, Hid menyeret saya untuk mengikutinya mencari kamar yang dimaksud. Pengalamannya merantau di Kalimantan selama 6 tahun dan menaiki berbagai kapal besar telah membuatnya begitu menguasai setiap lorong yang ada dalam sebuah kapal PELNI.
Ah iya, saat ini saya sedang berada di dalam perut sebuah kapal PELNI, sodara - sodara !! Terinspirasi oleh Gola Gong dengan cerita Balada si Roy nya, dan Asterix dengan Perjalanan Keliling Galia nya, saya pun dengan nekat mencoba menulis catatan perjalanan saya dengan bertualang ke Indonesia Timur. Setelah mengantar saya sampai kamar, Hid pun berpamitan pulang, memeluk saya erat sambil menangis, seolah saya tidak akan kembali untuk waktu yang lama.
Setelah melepasnya, saya kembali ke kamar yang berisi empat tempat tidur tingkat ( delapan kasur )dan dua lemari berukuran kecil itu. Kamar kelas IIb KM Lambelu ini berisi delapan penumpang. Kapal buatan Jerman tahun 1996 ini mempunyai data kapasitas penumpang sebagai berikut :
Kelas IA sejumlah 64 penumpang ( satu kamar isinya 2 orang )
Kelas IB sejumlah 80 penumpang ( satu kamar berisi 4 orang )
Kelas IIA sejumlah 144 penumpang ( satu kamar 6 orang )
Kelas IIB sejumlah 96 penumpang ( satu kamar 8 orang )
Kelas III ( Wisata ) berbentuk barak los tanpa kamar, isinya 355 orang, terletak di lantai 4 Ekonomi berbentuk los juga dengan kapasitas 1264 tempat tidur, terletak di lantai 3 dan lantai 2 Oh iya, sekedar info, makin rendah lantainya, maka akan semakin terasa goyangan ombak lautnya.
Dan sekedar info juga, untuk mendapatkan tiket kelas IIB teratas, susahnya minta ampun. Beberapa sumber yang semoga tidak bisa dipercaya mengatakan, oknum petugas PELNI kadang bekerjasama dengan para calo dengan menjual tiket kelas langsung kepada para calo dengan harga sedikit diatas harga resmi. Sehingga, sangat sering kita jumpai penumpang yang mencari tiket kelas II ke atas di loket resmi selalu kehabisan. Namanya juga Indonesia.
Dan tebak, berapa kapasitas penumpang ekonomi yang diangkut oleh kapal ini. Saya tidak tahu pasti, tetapi mungkin lebih dari dua ribu penumpang !!! Padahal seperti yang saya tulis tadi, kapasitas penumpang ekonomi adalah 1264 orang. Para penumpang yang tidak mendapatkan tempat tidur, memenuhi geladak, bagian buritan, lorong2 jalan, hingga sampai sisi luar kapal. Tentu saja mereka tidak kebagian pelampung dan sulit tertampung dalam delapan sekoci yang dipersiapkan oleh kapal jika terjadi force mayeur. Namanya juga Indonesia.
Setelah sholat maghrib dan Isya di kamar saya yang sempit ( waktu itu saya belum tahu kalo di kapal ini dilengkapi musholla besar di bagian buritan), saya diajak oleh dua bapak2 purnawirawan ABRI yang kebetulan sekamar dengan saya, untuk makan malam. Makan malam memang disediakan oleh kapal.
Tentu dibedakan antara makan kelas ekonomi dan wisata, dengan makan kelas I dan II. Ruangan makan kelas I dan II dilengkapi dengan beberapa set meja kursi rapi, dan sebuah panggung musik yang sesekali diisi oleh sebuah band yang membawakan lagu2 standar buat orang makan. Menu yang disajikan buat makan malam biasanya nasi dengan sayur dan berbagai lauk dari ikan laut.
Selesai makan, dua bapak “tua - tua keladi” ini iseng mengajak saya menonton film di theatre yang ada di lantai 2. Wah boleh juga nih, belum pernah seumur2 nonton film di kapal. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa sebuah kapal ternyata juga dilengkapi dengan berbagai sarana hiburan. Akhirnya saya dengan dua bapak tadi pun melewatkan dua jam malam pertama, nonton film di sebuah kapal yang sedang mengarungi sebuah lautan lepas.
Selesai dengan hiburan ” bioskop goyang”nya, saya dan dua bapak tadi naik ke lantai empat menuju kamar dan bergabung dengan 5 orang lainnya di kamar itu. Setelah sedikit berakrab2an dengan mereka, saya pun membuka buku harian saya, untuk membuat catatan point penting hari ini. Badan saya penat teman - teman, setelah semalam kemarin saya menempuh perjalanan Magelang - Surabaya, dan siang tadi capek packing plus mendapat pengalaman baru di kapal. Saatnya tidur. Besok malam, saya akan segera sampai di daratan Sulawesi.

Pergi ke Timur - MAKASSAR
Sebuah pemberitahuan waktu shubuh membangunkan saya dari tidur. Saya beranjak menuju ke arah buritan kapal. Musholla terletak di lantai 5 bagian belakang kapal. Sebenarnya musholla itu cukup luas, bisa menampung sekitar seratusan orang. Tapi jika dibanding kapasitas kapal yang berpenumpang dua ribu orang lebih tentu muhsolla ini bisa dikategorikan kurang luas.
Oh iya, semalam kata beberapa orang, kapal ini baru saja melewati lokasi tenggelamnya KM. Tampomas yang ceritanya melegenda itu. Konon setiap kapal yang melewati daerah itu akan membunyikan stoom nya sebagai penghormatan atas musibah tersebut.
Keluar dari musholla, saya yang sedari keluar kamar sudah bersiap2 dengan kamera tentu tidak akan melewatkan sunrise pertama yang bisa saya nikmati dari sebuah kapal di tengah lautan luas tanpa terlihat satupun daratan. Sambil menunggu matahari, iseng saya naik ke lantai enam, ke sebuah cafetaria yang letaknya tepat di atas tempat wudhu musholla. Dan olala, harga - harga disini dua bahkan tiga kali lipat dari harga di daratan. Untung saya tadi sekedar memesan satu mie instan yang dikemas dalam gelas sterofoam dan segelas kopi.
Sore menjelang, setelah seharian di kapal, saya mulai bisa menemukan ritme kehidupan disini. Jadi saya mulai membuat jadwal dalam angan kapan harus makan ( hanya jam2 tertentu tempat makannya dibuka), kapan harus mandi (untuk menghindari antrian), kapan harus sholat ( di kapal hanya ada 3 waktu sholat, isya dijama’ di maghrib, dan ashar dijama’ di dhuhur ) dan kapan harus berkeliling kapal.
PORT OF MAKASSAR. Itu tulisan yang pertama kali saya baca sebelum kapal mendekati daratan. Setelah berulang kali pengumuman satu jam, setengah jam, hingga lima belas menit menjelang merapatnya kapal diberitahukan oleh ABK ( awak buah kapal ) lewat pengeras, merapatlah kapal ini di pelabuhan makassar. Jam 11 malam waktu itu. Agak terlambat dari jadwal yangs seharusnya.
Saya dengan antusias ikut arus penumpang untuk turun di kota ini. Satu langkah kakiku di daratan ini, akan mengubah dan memberikan arti pada kehidupan dunia selanjutnya, itu kata2 columbus saat pertama kali mendarat di benua Amerika. Sedangkan saya cukup meneriakkan kata tiga !! yang artinya adalah pulau ke tiga (setelah Jawa dan Bali ) yang berhasil saya tinggali jejak kaki.
Kemudian atas petunjuk dua bapak tua yang kebetulan turun dan tinggal di kota ini, saya pun berjalan kaki dari pelabuhan menuju Losari, sebuah tempat yang konon mempunyai pujasera makanan di pinggir pantai terpanjang se asia tenggara. Iseng, saya masuk ke sebuah warung tenda, memesan seporsi makan malam ( tentu dengan ikan bakar makassar yang terkenal itu ). Sayang karena malam, saya jadi tidak bisa menikmati seluruh suasana pantai. Saya pun memutuskan untuk kembali ke kapal sambil membeli sebotol sirup markisa Bola Dunia sebagai oleh - oleh. Tidak perlu banyak, cukup satu saja, karena perjalanan saya masih panjang, Makassar hanya tempat transit.
Ah Indonesia, saya tidak akan berhenti disini. Jangan pernah mengaku orang Indonesia jika saya hanya lahir, tumbuh, berkembang, berkuasa, dan mati di satu tempat saja. Indonesia bukan hanya Magelang, Indonesia bukan hanya Jawa. Pagi menjelang, KM Lambelu mulai meninggalkan pelabuhan, dengan tujuan selanjutnya pelabuhan bau - bau, di Pulau Buton. Mari siap - siap kita teriakkan EMPAT !!!
Pergi ke Timur - BAU - BAU, BANGGAI
“Nyong lempar nyong !!”
“Nyong lempar nyong !!”
Ah, ingin rasanya saya membuka baju dan ikut terjun ke air untuk berebutan uang logam bersama anak - anak kecil itu. Ya, saya sudah tiba di pelabuhan kecil bau - bau. Sebuah kota kecil yang kata seorang teman ibarat kita menjatuhkan sebuah jarum saja, semua penghuni kota akan mendengarnya. Pendapat yang berlebihan tentu saja.
Penumpang kapal dengan senang melemparkan beberapa uang koin yang mereka miliki, dan anak - anak itu tanpa lelah terus, terus, dan terus saja menyelam untuk saling berebut dengan teman - temannya. Mereka anak - anak Indonesia yang dikaruniai kekuatan jantung dan pernafasan yang luar biasa.
Saya pernah merasa gendang telinga sakit seperti tertusuk dan hanya mampu berada di dalam air selama dua menit di kedalaman empat meter, sementara mereka mampu bertahan 4 menit dan menyelam jauh lebih dalam tanpa alat bantuan apapun. Ismail Alrip, teman yang baru saja saya kenal dari Makassar melarang saya untuk ikutan “mandi”, karena kapal ini hanya transit kurang lebih 1-2 jam saja di pelabuhan kecil ini. Akhirnya saya pun membatalkan niat bergabung dengan anak - anak itu dan memilih berkeliling untuk melihat kota bau - bau.
Saya memang bukan si Roy, yang dengan melakukan perjalanan, juga sekalian membuat tulisan - tulisan perjalanannya yang kemudian dimuat oleh sebuah majalah, sehingga dia bisa terus membiayai sendiri perjalanannya. Jadi, saya memutuskan untuk tidak tinggal sejenak di kota ini mengingat budget yang terbatas.
Oh ya, di sekitar Pulau Buton ini ( bau bau terletak di Pulau Buton, Pulau ke empat yang berhasil saya singgahi ) ada sebuah taman laut nasional yang terkenal keindahannya, namanya Wakatobi. Memang taman laut ini kalah tenar dengan taman laut bunaken maupun taman laut banda, tapi sekarang justru disitu letak keunggulannya. Bunaken sekarang sudah cukup kotor dan mulai kehilangan keindahan terumbu karangnya karena kurangnya sosialisasi tentang pelestarian taman laut tersebut.
Oke kita tinggalkan cerita tentang bau - bau. Kapal sekarang berlayar menuju ambon. Tapi saya sepertinya lebih suka untuk menceritakan Banggai terlebih dahulu. Sebuah daerah kecil, tempat kapal biasa transit, tetapi tidak bisa bersandar. Artinya, kapal tetap mengapung di lautan, sekitar 50 meter dari daratan, sehingga baik penumpang yang naik maupun yang turun harus diangkut dengan perahu - perahu kecil nelayan.

Nah yang unik di persinggahan Banggai ini, ternyata perahu - perahu kecil itu disamping mengantar jemput penumpang, ternyata sebagian juga berjualan. Cara berjualannya cukup unik. Penumpang dari atas kapal berteriak meminta barang dan menanyakan harga kemudian setelah sepakat, barang akan diantar dengan keranjang bambu yang dinaikkan dengan sebuah galah panjang. Kemudian pembeli meletakkan uang sesuai dengan harga yang disepakati di keranjang bambu tersebut.
Ah indahnya asas kepercayaan yang mereka bangun. NIlai - nilai yang seperti ini sepertinya yang sudah mulai berkurang dari bangsa ini. Dan saya bersyukur mendapatkannya disini.
Iseng saya ikutan pesan sebuah durian dan sebuah makanan yang namanya saya lupa. Sejenis lemper, tapi dibakar dan di dalamnya berisi sayatan halus daging ikan laut ( di Ternate Maluku Utara dan Sulawesi Utara dinamakan Nasi Jaha’). Hohoho…enak betul.
Perjalanan kemudian berlanjut. Disekitar kiri kanan badan kapal sesekali terlihat sekawanan ikan terbang yang seakan seperti ingin berkenalan dan mengajak bercanda. Lautan kita memang luar biasa. Luar biasa luasnya, luar biasa potensinya. Sungguh sayang negeri ini tidak maksimal memanfaatkan keunggulan alam ini. Bayangkan 2/3 wilayah negara kesatuan Indonesia ini terdiri dari perairan, kenapa kita masih saja menitikberatkan pembangunan dan pengalokasian APBN pada sektor darat macam industri dan pertanian ?
Dan kenapa baru pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid baru terpikirkan untuk membuat sebuah kementerian kelautan ? Laut kita selama ini hanya menjadi tempat pembuangan limbah asing dan surga bagi para penangkap ikan dari negara2 maju yang mempunyai kapal - kapal canggih. Sementara potensi berupa sumber daya ikan, rumput laut, juga pariwisata belum tergali benar. Saya setengah menyetujui pendapat teman saya Iq, yang dalam sebuah perbincangan di milis pernah mengatakan : andai semua potensi wisata laut kita bisa kita kelola dengan baik, bisa jadi tidak akan ada penduduk Indonesia yang miskin.
Tujuan selanjutnya, kembali ke daratan besar pulau sulawesi, BITUNG. Setelah itu kemudian, mengakhirinya di TERNATE !!
Pergi ke Timur - BITUNG, TERNATE
Bitung !!! Saya kembali menemukan daratan besar. Setelah sekian lama terombang-ambing dari Baubau, Banggai, hingga Pulau Seram ( Ambon ), akhirnya saya kembali ke salah satu dari 5 pulau besar utama di Indonesia, Sulawesi. Oh ya, selama di Sulawesi Utara ini saya pernah menyusuri sebuah sungai yang berujung pada air terjun Tinoor ( baca : tino or ), dan menikmati Taman Laut Nasional Bunaken. Sayang sekali, saat itu saya ( baca : ganteng ) menemukan arus laut yang membawa sampah yang jujur saja agak mengganggu gerak dan kepuasan kita dalam menikmati taman laut.
Dua orang bule yang berenang melintas di depan saya tampak sibuk memberi peringatan kepada beberapa wisatawan domestik yang bersnorkel untuk tidak sembarangan menginjak terumbu karang saat mereka kecapekan berenang. Bule disini lebih peduli terhadap kelestarian alam milik bangsa kita, sodara - sodara.

Dan di pelabuhan bitung ini saya menyaksikan sebuah adegan yang mirip dalam film atau sinetron, adegan seorang pencopet yang ketahuan dan segera dipukuli bersama - sama.
Selalu begitu. Saat ekonomi dan biaya hidup menjadi bayangan menakutkan, manusia selalu berpikir untuk survive yang sayangnya lebih menyukai jalan pintas dibaniding jalan utama yang kendati lebih panjang tetapi menjanjikan keselamatan.
Dari pedagang gorengan yang mencampur plastik demi tahan lamanya ke-crispy-an dagangannya, penjual tahu dan ikan yang memakai formalin untuk mengawetkan, pemakaian bahan pewarna kain pada jajanan anak yang warnany lebih menarik dan murah, pemalsuan produk sabun, obat, hingga minuman, hingga kasus jalan pintas pencopet tadi.
Sebenarnya orang Indonesia selalu kreatif dalam menghadapi masalah bukan ? Ah saya tidak mau berlama - lama merenungi sisi negatif bangsa kita ini. Keindahan alam Indonesia ini lebih menarik untuk dibahas dan dinikmati. Saya kembali menatap ke depan saat stoom kapal kembali berbunyi. Kapal sekarang menuju kota Ternate, Maluku Utara.
Lihat bagian belakang uang kertas seribuan anda, dan bandingkan dengan gambar di bawah ini. Yap, inilah Pulau Maitara ( penduduk ternate lebih suka menyebutnya Metara ) dengan latar belakang Gunung Kie matubu yang ada di daratan Tidore. Saya sudah sampai di Ternate teman - teman. Daratan yang indah, indah , indah luar biasa !!

Saat kapal mendekati perairan Maluku Utara, kita pertama akan bertemu dengan Pulau Hiri di sisi kiri kapal, Pulau yang konon dihuni oleh banyak orang - orang sakti pembela Sultan Ternate. Pulau Ternate sendiri ada di sisi kanan kapal.
Ternate ini sebenarnya menurut saya bukan lah pulau, tetapi hanya sebuah gunung yang muncul di tengah lautan, tetapi lerengnya agak landai sehingga bisa dijadikan tempat tinggal manusia. Disinilah saya singgah untuk menikmati suasana Maluku Utara.
Orang ternate ternyata tidak mengenal arah angin. Mereka hanya mengenal arah ke Dara ( ke darat untuk menyebut ke arah gunung gamalama ), ke lao ( ke laut, untuk menyebut arah ke laut ), ke bawah ( sebutan untuk daerah ternate selatan ), dan ke atas ( sebutan untuk daerah ternate utara ). Itu dikarenakan bentuk pulau ini yang melingkar dengan jarak keliling pulau sekitar ± 40 KM saja.
Penduduknya lumayan ramah dan tidak mengenal sarapan pagi. Makanan khas disini mirip di Manado Sulawesi Utara. Ada pisang goreng sambal ( pisang diiris tipis digoreng kering -kadang hingga keras- dan makannya pakai sambal ), papeda ( sejenis sagu yang diolah hingga jadi makanan mirip lem ), air guraka ( sejenis air jahe, di Manado namanya Sarabak. pertama kali dengar namanya saya langsung terbelalak sambil nanya ulang : air durhaka ?!!), nasi jaha’ ( sejenis lemper, nasi dibungkus daun pisang dengan ikan hancur di dalamnya, dan dibakar. Pertama kali saya dengar saya kembali terbelalak sambil bertanya ulang : nasi jahat ?!! ), hingga makanan khas manado macam dabudabu manta dan bubur manado. Dan jangan heran kalo saya disini juga pernah merasakan buah pisang disayur, ha ha ha ha ha .
Bahasanya juga aneh, setengah bahasa Indonesia, setengah bahasa daerah. Kucing mereka sebut Tussa, semut mereka bilang bifi, dan monyet mereka bilang panta merah ( pantat merah ) atau…..yankis !! Bayangkan jika disitu ada orang New York, tentu mereka bakal dongkol setengah mati ( penduduk New York biasa disebut sebagai Yankee )
Masyarakat Ternate memang sangat majemuk. Banyak warga asli, banyak pendatang dari Sulawesi Utara, banyak orang Makassar, banyak orang jawa ( terutama jawa timur ), orang Arab, hingga orang China.
Di sebelahnya, penduduk Pulau Tidore siap menyajikan keramahan dan kekeluargaan versi mereka. Saya mengenal kekuatan terbesar rasa kekeluargaan ya dari orang Tidore ini. Bayangkan saja, penduduk kampungnya rela patungan demi membiayai beberapa anak dari desa mereka yang dianggap mampu untuk meneruskan sekolah hingga jenjang yang lebih tinggi.
Kemudian, jika ada satu orang tidore punya hajatan ingin membangun rumah di suatu tempat di luar tidore, orang2 sekampungnya akan dengan sukarela datang membantu membuatkan rumah tanpa meminta imbalan upah. Hebat bukan ? Ah, sebenarnya masih banyak yang ingin saya ceritakan tentang Indonesia timur ini. Indonesia yang luar biasa.
Saya hanya bisa bersujud syukur karena telah diberi kesempatan oleh Alloh untuk melakukan perjalanan bahari keliling Indonesia Timur, menikmati pucuk2 atap gunungnya, hingga mendapatkan banyak pengalaman yang sepertinya akan dengan bangga saya ceritakan pada anak cucu saya nanti. ” Anakku, cucuku, pergilah ke mana pun kamu mau, tidak satu pun tempat di bumi ini Alloh ciptakan dengan sia - sia “





































